
DEMOKRASI TERTEKAN, EKONOMI TERCEKIK
24 June 2026
TRADISI MAKOTEK 27 JUNI 2026
25 June 2026Hari Raya Kuningan dirayakan oleh umat Hindu setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Saniscara Kliwon wuku Kuningan (Sabtu Kliwon), sepuluh hari setelah perayaan Hari Raya Galungan.
Secara filosofis, kata Kuningan memiliki makna “kauningan” yang berarti kedekatan diri, kesadaran, mawas diri, dan introspeksi. Jika Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma (kebajikan) melawan Adharma (keburukan), maka Kuningan adalah momen bagi umat manusia untuk memantapkan kemenangan tersebut dengan memohon keselamatan, perlindungan, dan tuntunan spiritual ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Parama Kawi.

Umat Hindu meyakini bahwa pada hari Kuningan, Para Dewa Bhatara, dan leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkah dan anugerah. Uniknya, pelaksanaan persembahyangan pada hari Kuningan dibatasi hanya sampai setengah hari saja (sebelum jam 12.00 siang). Hal ini didasari oleh filosofi bahwa pada siang hari, Para Dewa dan leluhur telah kembali ke stananya masing-masing di alam suci.
SIMBOL DAN SAJIAN KHAS RERAHINAN KUNINGAN
Nah, kalian tahu tidak Ganesha Kelana? Perayaan Kuningan itu identik banget dengan beberapa sarana upakara (sesajen) yang khas dan sarat akan makna simbolis
1. Nasi Kuning

Menjadi ciri khas utama yang diletakkan dalam tumpeng atau tebog. Warna kuning melambangkan kemakmuran, kebahagiaan, kelimpahan rezeki, serta wujud rasa syukur atas segala anugerah materi dan spiritual yang telah diterima.
2. Tamiang

Berbentuk bulat menyerupai perisai atau roda. Sarana ini melambangkan perlindungan diri (bela diri) dari segala marabahaya, godaan negatif, serta roda kehidupan yang harus dihadapi dengan kesiapan mental yang kuat.
3. Endongan

Berbentuk seperti kantong atau tas yang berisi perbekalan material dan spiritual. Ini adalah pengingat bagi manusia untuk selalu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, kebajikan (dharma), kebaikan, dan iman dalam mengarungi perjalanan hidup.
REFLEKSI DAN MAKNA DALAM KEHIDUPAN
Lebih dari sekadar ritual berkumpul dan membuat sesajen, Rahina Kuningan adalah momen suci untuk berhenti sejenak dan merepleksikan dari lubuk sanubari. Perayaan ini mengajak kita untuk menguatkan benteng spiritual agar kemenangan kebajikan yang telah dirayakan pada hari Galungan tidak goyah oleh ego, keserakahan, atau hal-hal negatif lainnya.
Melalui keheningan doa, wewangian dupa, dan persembahan tulus, Hari Raya Kuningan menuntun umat manusia menuju kesadaran spiritual yang murni menjaga pikiran, ucapan, dan tindakan agar tetap berjalan harmonis, damai, dan selaras dengan ajaran Dharma demi kebaikan semesta.
Referensi
Wulandari, A. (2017). MAKNA HARI RAYA KUNINGAN PADA UMAT HINDU DIPURA KHAYANGAN JAGAT KERTHI BUANA WAYLUNIK BANDAR LAMPUN (Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung). MAKNA HARI RAYA KUNINGAN PADA UMAT HINDU DIPURA KHAYANGAN JAGAT KERTHI BUANA WAYLUNIK BANDAR LAMPUN – Raden Intan Repository
KASIMBAR, V. P. PERSEPSI UMAT HINDU TENTANG HARI RAYA KUNINGAN DI DUSUN LUMBUNG SARI LEMO DESA KASIMBAR PALAPI KECAMATAN KASIMBAR KABUPATEN PARIGI MOUTONG HINDUS PERCEPTIONS ABOUT THE FEAST OF BRASS. KASIMBAR, V. P. PERSEPSI UMAT HINDU TENTANG HARI… – Google Scholar
Hari Raya Kuningan: Makna, Tradisi, dan Filosofi dan Sajian Rerahinan yang Dirayakan Umat Hindu di Bali – Telusur Bali. Hari Raya Kuningan: Makna, Tradisi, dan Filosofi dan Sajian Rerahinan yang Dirayakan Umat Hindu di Bali – Telusur Bali




