
KATANYA STOK BBM AMAN, TAPI KOK MASIH LANGKA?
16 October 2026
KARYA MAHASISWA ILMU KOMPUTER TERPILIH MENJADI LOGO RESMI DIES NATALIS KE-34 UNDIKSHA
3 November 2026
Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan Sharing Session Bali Membaca EPS 3
Singaraja, 9 Oktober 2026 — Bali Membaca Episode 3 bertajuk “Suara Muda, Wadah Aspirasi Generasi Muda untuk Pendidikan Bali” diselenggarakan oleh Aliansi BEM se-Bali Dewata Dwipa melalui Koordinator Isu Pendidikan dan Kepemudaan, berkolaborasi dengan Komunitas Mahima. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi pelajar dan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, berbagi pengalaman, serta membahas berbagai persoalan pendidikan di Bali.
Dalam kegiatan tersebut, Bagus Brihaspati selaku Ketua Panitia Kegiatan Bali Membaca 2026 menyampaikan bahwa Bali Membaca berangkat dari keresahan terhadap kondisi literasi pelajar di Buleleng, terutama setelah muncul pemberitaan mengenai pelajar tingkat SMP dan SMA yang mengalami kesulitan membaca, bahkan belum lancar membaca.
Berangkat dari persoalan tersebut, Bali Membaca dihadirkan sebagai ruang bagi generasi muda di Singaraja untuk kembali meningkatkan kualitas literasi melalui kegiatan membaca dan diskusi. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat makna Singaraja sebagai Kota Pendidikan, sehingga sebutan tersebut tidak sekadar menjadi kata-kata, tetapi tercermin melalui peningkatan kualitas literasi dan pendidikan masyarakatnya.
Dalam diskusi tersebut, Ari Putra selaku Direktur Jenderal Diplomasi BEM REMA Undiksha menilai bahwa pelibatan pelajar SMA dan SMK dalam forum diskusi merupakan langkah penting. Pengalaman yang mereka sampaikan dapat memberikan gambaran langsung mengenai persoalan pendidikan yang terjadi di lapangan. Dengan demikian, pembahasan pendidikan tidak hanya bertumpu pada teori, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman nyata dari pihak yang mengalaminya.
Ari Juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan, terutama dalam menentukan prioritas program dan anggaran. Menurutnya, peningkatan infrastruktur pendidikan, kesejahteraan guru, serta perbaikan sistem pembelajaran membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Apabila pendidikan tidak menjadi prioritas, hal tersebut dapat menjadi hambatan bagi Indonesia dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
Sejalan dengan hal tersebut, Reza Bagaskara Prayoga selaku Presiden Mahasiswa Undiksha menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap mahasiswa dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Reza juga menyinggung kendala birokrasi yang dihadapi dalam penyelenggaraan Bali Membaca. Proses perizinan yang panjang dan kurang jelas dinilai dapat menghambat pelaksanaan kegiatan mahasiswa. Persoalan serupa juga berpotensi dialami ketika mahasiswa melaksanakan kegiatan pengajaran atau pengabdian di masyarakat. Oleh karena itu, proses administrasi seharusnya dapat mendukung kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan justru menjadi hambatan.

Gambar 2. Dokumentasi BEM Bali Utara bersama perwakilan pelajar SMA/SMK di Singaraja
Persoalan fasilitas pendidikan juga menjadi perhatian dalam diskusi. Elika selaku Direktur Jenderal Pendidikan BEM REMA Undiksha membagikan pengalamannya ketika mengikuti kegiatan sosialisasi dan pengabdian kepada masyarakat di sekolah dasar. Dalam kegiatan tersebut, ia menemukan keluhan mengenai kekurangan tenaga pengajar dan keterbatasan fasilitas pendukung pembelajaran.
Elika juga menyoroti tantangan akses pendidikan bagi anak penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah terpencil. Jarak menuju sekolah di perkotaan dapat menjadi hambatan bagi anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan sekolah, tetapi juga perlu memperhatikan aksesibilitas, ketersediaan tenaga pengajar, serta fasilitas yang mendukung kebutuhan setiap peserta didik.
Dari perspektif kesehatan, Putu Bella Pebri Jawini selaku Presiden Mahasiswa STIKes Buleleng membahas hubungan antara kesehatan dan proses belajar. Ia menyoroti kebiasaan pelajar dan mahasiswa yang menggunakan telepon genggam atau layar dalam waktu lama untuk mengakses materi pembelajaran, menyelesaikan tugas hingga larut malam, serta menghadapi kekhawatiran dan tekanan akademik.
Bella juga menyinggung istilah narkolema, yang dikenal sebagai narkotika lewat mata, untuk menggambarkan persoalan paparan konten pornografi melalui media visual. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan penggunaan media digital perlu disertai kesadaran mengenai dampaknya terhadap kehidupan pelajar. Kesehatan dan pendidikan perlu diperhatikan secara bersamaan agar proses belajar dapat berlangsung dengan baik.
Setelah pemaparan dari beberapa perwakilan mahasiswa, sejumlah pelajar turut menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka mengenai persoalan pendidikan yang ditemui di lingkungan masing-masing.
Komang Bagus dari SMA Negeri 1 Singaraja menyoroti pentingnya keadilan dan pemerataan pendidikan. Menurutnya, setiap pelajar seharusnya memiliki kesempatan yang setara untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Perbedaan kondisi wilayah dan fasilitas sekolah tidak seharusnya menjadi alasan bagi sebagian pelajar untuk memperoleh kesempatan belajar yang lebih terbatas dibandingkan pelajar lainnya.
Adinda dari SMK Negeri 1 Singaraja membahas persoalan sistem penerimaan murid baru dan ketidaksesuaian jurusan dengan minat peserta didik. Ia memberikan gambaran mengenai pelajar yang ingin masuk jurusan perhotelan karena bercita-cita bekerja di kapal pesiar, tetapi justru diterima pada jurusan yang berbeda. Ketidaksesuaian tersebut berpotensi mempengaruhi kenyamanan dan kepercayaan diri pelajar dalam menjalani proses pembelajaran.
Adinda juga menyoroti beban administrasi yang harus dikerjakan oleh guru. Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru perlu menjadi perhatian karena tenaga pendidik memiliki peran penting dalam proses belajar. Beban administrasi yang tinggi perlu diimbangi dengan dukungan dan kesejahteraan yang memadai agar guru dapat menjalankan tugas utamanya secara optimal.
Sementara itu, Susila Wijaya selaku Presiden Mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja sekaligus lulusan SMK Negeri 1 Singaraja tahun 2024 menyampaikan pandangannya mengenai kesiapan pelajar menghadapi dunia kerja. Ia menekankan bahwa pelajar tetap perlu mengembangkan keterampilan meskipun jurusan yang dijalani tidak sepenuhnya sesuai dengan minat awal.
Menurutnya, keterampilan seperti pemasaran, pemasaran digital, akuntansi, penguasaan bahasa, dan kemampuan berbicara di depan umum dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja. Selain itu, kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) memberikan kesempatan bagi pelajar untuk mengenal lingkungan kerja secara langsung. Pengembangan keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu pelajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja setelah lulus.
Vika dari SMA Negeri 1 Seririt turut membagikan cerita mengenai kondisi pendidikan di SD Negeri 5 Lokapaksa, tempat ayahnya bekerja sebagai guru. Ia menyampaikan bahwa akses menuju sekolah tersebut cukup sulit dan fasilitas pendukung pembelajaran masih terbatas. Selain itu, sekolah tersebut mengalami kekurangan sekitar empat hingga lima orang guru. Kondisi tersebut membuat guru harus mengajar di luar bidang yang biasa diampu. Ayahnya, yang biasanya mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), juga harus mengajar Pendidikan Jasmani karena keterbatasan tenaga pengajar.
Vika juga menyampaikan bahwa jumlah peserta didik baru yang masuk ke sekolah tersebut tergolong sedikit, dengan perkiraan sekitar enam hingga delapan siswa. Menurutnya, pandangan sebagian orang tua yang menganggap sekolah di wilayah terpencil memiliki kualitas lebih rendah dapat menjadi salah satu tantangan bagi keberlangsungan sekolah. Padahal, keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar perlu dilihat sebagai persoalan yang membutuhkan dukungan serta perhatian, bukan semata-mata sebagai ukuran kualitas pendidikan. Selain itu, Vika mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan dampak efisiensi anggaran pemerintah terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tempat ayahnya mengajar. Kekhawatiran tersebut disampaikan berdasarkan informasi yang ia terima dari ayahnya dan menjadi salah satu persoalan yang menurutnya perlu mendapat perhatian.
Berbagai pandangan yang disampaikan dalam Bali Membaca Episode 3 memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri. Pemerataan fasilitas, ketersediaan dan kesejahteraan guru, sistem penerimaan murid baru, kesesuaian jurusan dengan minat pelajar, kesehatan, hingga hambatan birokrasi menjadi bagian dari tantangan yang perlu diperhatikan bersama. Melalui forum ini, suara pelajar dan mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai pembahasan dalam diskusi, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak-pihak terkait. Bali Membaca menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pengalaman dan aspirasi mereka, sekaligus mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kualitas serta pemerataan pendidikan di Bali.




